Ini catatan perjalanan turing yang sudah terlalu basi, tapi biar saja supaya saya tak mudah lupa. Turing 2 sepeda motor (Honda Tiger dan Suzuki Thunder 125) mulai tanggal 23 Desember 2009 hingga tiba kembali di rumah pada tanggal 1 Januari 2010. Menempuh jalur Pantura, menyeberangi Selat Bali, beristirahat di Denpasar, lanjut menjejakkan roda di Lombok, hingga berakhir di Taliwang, Sumbawa Barat, NTB dengan total jarak tempuh sekitar 3200 kilometer.
Perjalanan dimulai Rabu pagi dari SPBU dekat Graha Elnusa, lanjut menuju Bekasi, tak lupa sedikit nyasar hingga akhirnya bisa mencapai Cikampek. Cuaca cerah mengiringi perjalanan santai ini. Hingga makan siang kami sudah tiba di Cirebon, dan mampir di Empal Gentong Ibu Dharma. Setelah beristirahat cukup lama, kami melanjutkan perjalanan hingga tiba di Semarang menjelang Magrib. Demi menyimpan tenaga dan faktor umur akhirnya kami memutuskan untuk menghubungi teman-teman TC125 Semarang Chapter dan numpang tidur di sekretariatnya.
Esok paginya (24/12) perjalanan dilanjutkan dengan target sudah harus mendekat Banyuwangi. Kondisi jalan Pantura yang saat itu lumayan rusak cukup menghambat laju sepeda motor. (Kapan sih Pantura ga rusak?
) Sebelum makan siang kami sudah menyentuh gerbang masuk propinsi Jawa Timur, dan tentu saja berfoto! Rute hari itu berakhir di sebuah hotel Pertamina di daerah Probolinggo. Ya, hotel Pertamina dengan fitur standar seperti SPBU, toilet dan musholla.
Selepas Subuh kami kembali memacu sepeda motor demi mengejar sarapan di Pelabuhan Ketapang. Tepat di depan pintu masuk pelabuhan ada sebuah warung nasi sederhana yang tak disangka ternyata masakannya enak. Hmm bisa jadi akibat sudah lapar ya… Selesai sarapan pagi bertepatan dengan hendak berangkatnya sebuah kapal ferry yang akan membawa kami menyeberangi Selat Bali. Beli tiket, melewati pemeriksaan, di parkir kami bertemu dengan beberapa skuteris Vespa yang juga akan menuju Bali. Saya lupa siapa namanya, tapi ternyata ada seorang pemuda yang asli Jawa Barat dan sudah lama tinggal di Lombok.
Saat itu merupakan akhir perjalanannya setelah turing sendirian dari Lombok melewati Pantura demi menghadiri sebuah acara di Bandung, lalu menengok ibunya di Sumedang (kalau tidak salah ingat) yang sudah tidak ditemui 10 tahun belakangan. Di tengah perjalanan ini ia kehabisan uang, dan akhirnya minta ijin numpang makan pada sebuah resepsi. Lalu ia melanjutkan perjalanan menuju Jakarta, bertemu rekan skuteris yang lain, dan kembali ke Lombok.
Singkat cerita, Jumat siang (25/12) kami sudah tiba di Denpasar. Istirahat di sebuah kost harian di sekitar Renon selama beberapa hari sambil menyusun rencana selanjutnya. Kami juga sempat mampir ke Pura Uluwatu untuk melihat pentas tari Kecak dan sunset di sana namun sayangnya kami terlambat datang dan cuaca sedikit berawan.
Minggu tengah malam menuju pelabuhan Padangbai guna menyeberang ke Pulau Lombok. Tarif penyeberangannya ternyata mahal ya
Sedikit terlambat dari jadwal, kami tiba di Pelabuhan Lembar jam 6 pagi. Waktunya sarapan lagi! Tak disangka, ternyata teman-teman TC125 Lombok Chapter sudah siap menjemput kami di pelabuhan. Langsung menuju sekretariat, istirahat, dandan dan benerin make up, sambutan mereka sungguh hangat. Jadi rencana hari itu setelah makan siang menuju Gili Trawangan dan singgah sebentar di Malimbu serta Senggigi.
Menjelang malam, kami sudah kembali ke kota Mataram. Makan malam menyertai obrolan. Saat itulah tiba-tiba teman turing saya dari Jakarta mengusulkan untuk menyeberangi satu pelabuhan lagi demi menyentuh Sumbawa. Saya yang pemalu akhirnya pasrah saja dengan ajakan ini. Dasar gampangan! Demikianlah roda kami terus berputar membelah Pulau Lombok hingga tiba di pelabuhan Kayangan. Bukan, kami belum tiba di nirvana dan bertemu Kurt Cobain. Itu nama pelabuhan di sana.
Penyeberangan menuju pelabuhan Poto Tano memakan waktu sekitar 3 jam, cukup bagi kami untuk sebentar memejamkan mata. Tiba di pelabuhan pukul 2 pagi, kami sudah dijemput 4 orang anggota TC125 Lombok Chapter juga. Langsung kami digiring menuju kota Taliwang. Kondisi kami yang mulai mengantuk dan lelah membuat perjalanan cukup lambat. Sampai di tujuan kami langsung cuci tangan, kaki dan gosok gigi muka dan menikmati cemilan lewat tengah malam. Obrolan terpaksa dihentikan karena kami harus kembali ke Denpasar. Selesai makan, lalu berfoto bersama supaya tidak dibilang hoax, kami kembali menuju pelabuhan.
Begitulah. Dari Poto Tano kembali ke Kayangan (berasa dewa), membelah pulau dari Lombok Timur hingga Lombok Barat. Kapal ferry membawa kami kembali menyentuh Bali untuk istirahat beberapa hari. Perjalanan dilanjutkan kembali. Hingga kami melewatkan malam tahun baru 2010 dengan tidur di sebuah musholla di luar kota Semarang. Nah untungnya jalanan sepi. Jadi arus lalu lintas lancar, dan Jumat siang saya sudah tiba kembali di rumah.
Akhir tahun ini kemana ya?


















setelah sekian bulan akhirnya blog ini update juga
Jadi ceritanya, One Year Later…
Kapan ke semarang lagiiiii…kan waktu itu belom kopdar! #halah
horeee… caplang apdet blog…
*dipentung karena OOT*
wow, 3200 kilometer. ga kebayang gmana capeknya ….
@Ocha hehehe iya waktu itu gagal kopdar kita
@Nana ya kan demi…
@itikkecil silakan OOT, mau jumpalitan juga boleh
asala jangan minta sumbangan
@pinkparis capek banget… abis itu sampe rumah langsung tepar
baru bangun besok siangnya
baru februari sudah mikirin akhir tahun ini?
hebat!
Wow.. Touringnya jauh banget, salut deh.. Saya enggak kuat kayak gitu..
mantab, butuh stamina ekstra tuh buat turing2 bgitu, nice story mas…
mantab.. jaga kondisi n stamina bang
mantab… semoga lancar-lancar aja.. jgn lupa berdoa bang
salam kenal
nice info
edunn..jauh amat..
btw gag sama ramli?
keinginan yang dari dulu belum terealisasi.. hadeh… #curcol
nikmatii saja bangg
numpang buat ninggalin jejak
numpang nanya mas, tarif menyebrang untuk sepada motor (vespa) di pelabuhan ketapang dan padangbai berapa duit?
. weWw ceritanya keren jga ..
. nice for info.
walaaaah….hebat pisan euy motor tunder nepi ka lombok……mantaap
nice post