Tulisan ini menjadi penutup liburan saya ke Surabaya dan Bali akhir tahun lalu. Lho kok baru sekarang? Biasalah rutinitas…. *ngeles.com*
Surabaya
Saya berangkat dengan AirAsia yang ontime diiringi rintik hujan semenjak dari rumah. Ah tak menyangka kota ini akan menangisi perjalanan kali ini. Eh itu normal dan memang masih musim hujan yak? Di taksi juga sibuk mengirim kabar ke beberapa orang yang akan ditemui. Perjalanan berlangsung damai dan lancar kecuali pramugari yang beberapa kali berusaha menggoda: “Pak, maaf tolong sabuknya dikenakan” atau sekedar basa-basi bertanya, “Mau memesan makanan apa? Ini daftar harganya.”
Tiba di Bandara Djuanda cuaca lumayan berawan. Yang pertama kali dilakukan setelah menempuh perjalanan jauh dan cukup melelahkan seperti adalah update status Facebook tentunya. Setelah berhasil barulah berusaha mengenali lingkungan sekitar dan menyamankan diri sendiri dengan buang air kecil. “Ini teritori gue!” dalam hati. Tak lama kemudian tim penjemputan tiba dan dengan senang hati saya mengambil kendali untuk merasakan jalanan Surabaya di atas Mio. Anyway, saya baru tahu ternyata Bandara Djuanda itu masuk wilayah Sidoarjo yaa….
Selama berada di sini saya menginap di Hotel Fortuna di Jl. Darmokali. Namun malam terakhir saya habiskan di kamar kost Bro Bodrek untuk threesome bersama Anangku, bukan Anangmu atau Anang mereka. Nanti, nanti akan saya ceritakan aib ini. Setelah beristirahat sejenak di hotel dan membersihkan badan, perjalanan dimulai dengan makan siang Rawon Setan. Rasanya? Biasa saja, seperti rasa rawon pada umumnya, setaaan! Lanjut menuju Jembatan Merah, Tugu Pahlawan dan Monumen Kapal Selam. Oh iya sebelumnya juga sempat menikmati Es Krim Zangrandi. Makan malam dimulai dengan Tahu Tek Pak Ali dan ditutup Ayam Tulang Lunak Malioboro. Konon ini cabang dari yang ada di Bali. Lho kok? Bukannya Malioboro ada di Yogyakarta? Entahlah.
Hari kedua di Surabaya saya nyaris tidak kemana-mana selain istirahat di hotel. Kami tidak khilaf dan tak ada yang terjadi siang itu walau kami tidur bareng. Maksudnya saya di kamar dan Mio-nya di parkiran. Senin sore menyambut malam ada sms dari Bro Gajah_Pesing untuk karaoke bersama blogger TPC. Nah setelah karaoke inilah terjadi peristiwa threesome itu seperti pengakuan Anang. Sumpah, saya tidak tahu apa-apa! Terakhir saya cuma ingat ditawari minuman dalam kemasan air mineral dan setelah itu saya tak ingat apa-apa. Terbangun di atas kasur yang kapuknya beterbangan dengan borgol masih terpasang di tangan kiri dan cambuk tergeletak di samping bantal sambil terisak mengingat diri ini sudah tak perjaka lagi untuk ketiga kalinya dengan dua lelaki yang berbeda. Maaf, saya khilaf….
Hahaha ga kok, kejadian terakhir cuman bercanda. Aslinya tanpa borgol dan cambuk. Teman-teman TPC sangat ramah dan baik. Buktinya saya ditraktir karaoke, lanjut makan pecel, numpang tidur di kost dan terakhir diantar Bro Arul untuk melanjutan perjalanan ke Bali dengan bus. Terima kasih dan maaf sudah merepotkan teman-teman.
Denpasar dan sekitarnya
Saya tulis seperti itu karena Pulau Bali itu luas, sementara saya hanya sempat mengunjungi Denpasar, Nusa Dua, Jimbaran, Kuta dan sekitarnya. Ya pokoknya lebih luas dari kamar ukuran 4×6 deh
Menginap di Jimbaran dan bertemu suasana sepi, cocok dengan tema perjalanan ini. Ada satu tempat langganan untuk makan pagi. Selain karena jaraknya dekat, rasanya juga cukup enak. Dan murah. Nama tempatnya Nasi Ayam Ibu Oki, menunya ya nasi, ayam, telur rebus, sesuatu-mirip-urap, kacang, sate lilit dan sambal. Ada dugaan kuat pemilik tempat ini seperguruan namun beda aliran dengan Babi Panggang Ibu Oka. Ayam-babi, Oki-Oka. Terlihat jelas kan?
Tak banyak juga tempat yang dikunjungi selain Kuta, GWK, Dream Land Beach, Nusa Dua, Sanur dan beberapa tempat lagi. Menjelajahi jalanan Pulau Dewata dengan tipe sepeda motor yang berbeda: Yamaha Vega merah warnanya. Untuk kuliner di sini saya sempat menikmati nasi pedas Bu Andhika di Kuta dan warung Ayu Minantri di Renon. Oh iya, sempat juga makan Rujak Glogor bersama Iphan. Anehnya, dua kali saya janjian minta dijemput di kost tapi selalu tak lancar. Padahal saya sudah menunggu di tepi jalan sambil angkat rok tinggi-tinggi. Kemudian lari sekencang-kencangnya. Saya tak kenal pemilik rok itu. Padahal dua cowok yang sudah booking saya untuk short time menjemput saya memang tinggal di Bali. Dan mereka nyasar! N Y A S A R! Eh apa saya yang salah memberi petunjuk arah? ![]()
Terima kasih juga buat teman-teman di sana yang sudah dan selalu menemani saya. Benar-benar 4 hari yang penuh kejutan dan luar biasa. Semoga kita bisa segera bertemu lagi.
Penutup
Lalu rasa yang tertinggal? Ah ini dia. Sepeda motor jadi pilihan yang tepat untuk liburan, terutama saat di Bali. Namun penting untuk bersikap waspada dan tidak over confindence, apalagi mesti beradaptasi dengan jenis sepeda motor yang berbeda dengan yang biasa digunakan sehari-hari. Kenali juga suasana arus lalu lintas, rambu-rambu yang berlaku, dan kontur jalan yang dilalui. Tentu saja teman/boncenger yang mengetahui arah jalan setempat jadi syarat mutlak bila tak ada peta.
Kondisi lalu lintas di Surabaya dan (anggap saja) Bali sungguh berbeda dengan lalu lintas ibukota. Mulai dari tingkat densitas kendaraan di jalan, polusi udara, hingga sikap pengguna jalan. Di Surabaya, beberapa kali bolak-balik ke bandara, jarang terlihat bahkan nyaris tak ada pengendara sepeda motor yang mengenakan helm cetok. Tidak demikian di Bali. Masih ada beberapa pengendara sepeda motor, terutama pendatang, yang mengenakan helm seperti itu. Soalnya saya sempat pinjam Kymco matic teman dan menggunakan helm yang bentuknya seperti itu tapi bukan cetok. Lebih mirip helm klasik. Asli, bukan ngeles….
Udara di kedua tempat itu juga lebih segar dibanding Jakarta yang sumpek. Kelakuan para pengguna juga lebih tertib dan tidak grasa-grusu; main serobot seperti di sini (Jakarta-red). Kontur jalan juga jauh lebih baik dibanding Jakarta. Jarang saya temui lubang di jalan atau bahkan sekedar jalan bergelombang. Bandingkan dengan Jakarta: sepanjang ruas Sudirman-Thamrin tak sulit menemukan lubang, jalan bergelombang, dan tergenang setelah diguyur sedikit hujan. Dan yang seperti itu disebut jalan negara? Preet! Kemana serahkan-pada-ahlinya nih?
Terakhir, dengan lebar jalan yang sama tak saya temui markas polisi sepanjang jalan alias tak ada polisi tidur kecuali saat memasuki gang kecil. Ini masih normal. Kalau di Jakarta? Bused deh, tiap 20 meter ada poldur. Kenapa bisa begitu? Apa sedemikian ganas pengguna jalannya sehingga harus banyak dibatasi dengan pemasangan poldur yang tinggi? Anda punya pendapat?
*sengaja pakai judul lagu ST12 sebagai balasan buat supir bus yang semena-mena menyambut saya dengan lagu Cari Pacar Lagi saat baru menginjakkan sebelah kaki di tangga bus. Dan ternyata yang disetel adalah video karaoke ST12 satu album. Argh!! Tahu arti ST12? Sok tahu! (12x)


hohohoho…..Ndutz jadi kepengen cepet2 libur UAS biar bisa liburan!!!!
miss yuu….
Eca….
ah..
Dirimu kenapa si jalan jalan gak bilang bilang aku sayang?
aku kan setidaknya bisa menemanimu di hotel itu..tidak dengan lelaki lelaki yang sudah memperlakukanmu secara tidak senonoh itu…
atau..kamu memang sekarang sudah berganti selera ..jadi dengan pria??ahuuhhuuuuuu
Ah Eca….
Tunggu tulisan ku ya…
akan ku ungkap public affair kita selama ini…
*langsung kabur yang jauuhhh banget*
bukannya memang lagi senang lagu ST 12?
eh lupa…
miss yuu too..
Ini cerita apa kronologi kejadian?
demikian sari berita penting, hehehehe, petualangan si bolang
eh masuk yah… hmm.. pak’e bisa tolong hapusin yg kedua :p
maaf saia gak isa mengantarkan bro ke terminal.., hiks… saia ikhlas di borgol dan diperlakukan semena-mena….
Padahal saya sudah menunggu di tepi jalan sambil angkat rok tinggi-tinggi.
*membayangkan mas edy pake rok*
hiiiiiiiiiiyyyy!!!
kabur…!!!
sableng!
joh! tulisan penuh fantasi yang menyenangkan? eh?
awak jadi pingin posting tentang postingan ini juga ah..
tapi awak tak suka lagu st12 nya
Daku salut sobat
Cerita setahun yg lalu masih kau ingat
Semangat!
Wah.. enaknya jalan-jalan sambil kopdar.. Ternyata ndak ada toh aib ituh..
kekeke rasain gak bakal dapet oleh-oleh pempek
padahal gw paling demen st12
mana oleh-olehnya…
*tetep nagih*
jadi pengen jalan2 nih
ternyata loe bisa jatuh cinta jg plang? :p
kayak skripsi mas pake ada bab penutup…kabooorr…
lengkap dan terinci..huehehehehe. ada penutup ya? sayang ga ada kata pengantarnya. wekekekeke..
Salam
Doh thx God, lo masih idup ya Dy
Kapan2 mampir ke Solo ya, Bung. Ajari kita safety riding
Salam kenal
Blog walking and smile for you
liburan tetap aja gak bisa lepas dari pengamatan lalu lintas ya
duh menyenangkan sekali liburannya…
gyahahahaha….. kacauuuu
itenerari jadwal dan harga tiket busnya dung biar ceritanya kumplit
‘pake helm bagus’
hahaha.. ada2 aja d..
liburan yang sangat menghibur ^^
judul nya koq ST12 banget yah..
hehe..
kapan2 ane diajak ya om…
wah kapan trisam sama saya bang?
hotel fortuna itu tinggal ngesot aja ke rumahku
Apa kamu bilang ? Taat peraturan ? coba aja berhenti di lampu merah, diitung berapa motor yang berhenti di belakang marka ? saya berani taruhan kalo jumlahnya nggak lebih dari 3 motor. Ada satu yang brenti di belakang marka aja udah sukur deh.
wahh.., asyik nya bisa jalan2.., /me juga ntar abiz UAS (ujian agak serius) mo jalan2 ah..
btw, “threesome” itu apa yah..??, kwakwakwa.. *lugu mode on*
kapan ke Surabaya lagi nih…. nyanyi bareng lagi
kapan ke bali lagi ?
*berasa tinggal di bali
makan2, jalan2, ngakak2..
Bikin ngiri ih mas ed
Wahh.. enak ya bisa jalan-jalan. Ugghh,,, jadi ngiri deh
enaknya bisa jalan2 sendiri aja
Ditunggu kedatangannya yang ke-2 kali di surabaya… Jangan kapok mas maen ke Surabaya… Pintu kamar Koz saya terbuka lebar untuk temen-temen Blogger semua… Siap menyambut sampeyan semua dengan kesederhanaannya,,, weheheh,,,
Judulnya kaya lagu..
hiyaahahaha, udah diapain aja sama anang, mas?
pasti liburan yang menyenangkan yaks
surabaya mah polisinya sadis, itu yg bikin jalanannya jadi keren !
walahh.. kok ndak mampir Malang toh mas..
polisi di bali cuman berminat ama bule..ngeliat di kuta..bule2 pasti aja kena tilang..di bali tuh polisi rajiiiin bgt razia sim..
judulnya romantis juga
btw kunjungan perdana