Kondisi lalu lintas di Indonesia—khususnya Jabodetabek—yang semakin ruwet merupakan satu dari sekian banyak gulungan benang kusut masalah yang siap menunggu pemimpin bangsa (baru?) berikutnya. Ruas jalan yang tak bertambah berbanding terbalik dengan peningkatan jumlah kendaraan yang beredar di jalan. Hasilnya densitas kendaraan di jalan melonjak tajam.
Masalah membutuhkan solusi. Siapa yang harus bertanggung jawab atas keruwetan ini? Apakah:
- Pemerintah dan departemen-departemen terkait, yang harus memperbaiki dan menambah infrastruktur transportasi mulai dari kondisi jalan yang layak dan tak berlubang, rambu-rambu lalu lintas yang tidak malu-malu (sembunyi di balik rimbun pohon atau sengaja jebakan?) hingga penertiban bendera-bendera partai yang dipasang seadanya menggunakan bambu dan tali plastik tanpa memperhatikan bahayanya bagi pengguna jalan bila terkena tiupan angin (kurang dana kampanye? Jangan bikin partai!)
- Kepolisian, sebagai instrumen pemerintah yang [mestinya] bertugas melindungi dan melayani masyarakat, tapi pada prakteknya masih ada polisi (polisi, bukan oknum polisi) yang bermain-main aturan lalu lintas demi tambahan uang setoran. Setoran untuk keluarga atau atasan?
- Produsen dan distributor kendaraan bermotor, yang sering kali melupakan fungsi CSR dan hanya mengedepankan target penjualan. Padahal idealnya produsen dan penjual WAJIB meyakinkan konsumen untuk memiliki keahlian dan pengetahuan dasar aturan keselamatan dan lalu lintas sebelum konsumen berhak memiliki sebuah atau lebih kendaraan bermotor. Jangan perang diskon melulu…
- Dewan yang terhormat, dengan gaji lebih dari 40 juta per bulan, mestinya tak usah meminta bayaran lagi untuk serius dan sadar (tak tidur saat rapat) membuat revisi UUB (Undang-undang yang basi) bidang lalu lintas demi kesejahteraan orang-orang yang [katanya] diwakili. Di mana nilai “mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan” yang dulu tercetak dalam buku-buku pelajaran sekolah sebagai butir nilai yang harus diamalkan?
- Pengguna jalan, mulai dari pejalan kaki yang menyeberang atau memberhentikan angkutan umum di sembarang tempat, pengguna roda dua yang seenaknya melawan arus jalan, roda empat yang enggan memberi sedikit celah di sisi kiri.
- …mungkin ada yang lain untuk jadi kambing warna hitam
Jadi salah siapa? Atau memang tak ada yang bisa disalahkan?
Bagaimana cara mengatasi masalah transportasi dan lalu lintas ini? Apa yang harus pertama kali dilakukan: revisi undang-undang, pemimpin yang lebih tegas tapi bukan rezim, pembubaran dewan, pajak kendaraan dan denda pelanggaran yang tinggi atau ada lainnya?
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
PS (pesan sponsor): bila Anda memiliki pendapat tentang hal ini, mengapa tak menuliskannya dalam blog dan mengikutsertakannya dalam lomba menulis Share The Road?








37 Comments
kalau masalah siapa yang salah, sulit rasanya kalo harus saling menyalahkan. mendingan semua pihak menyadari pentingnya kesadaran berlalu lintas. Idealis memang, tapi tidak ada salahnya kita bisa kampanyekan tentang lalu lintas. Saya pernah lihat hal menarik yang dilakukan mahasiswa2 UGM, mereka KKN-nya menggalakkan tentang kesadaran lalu lintas gitu, dan mereka rela berdiri di pinggir jalan membawa tulisan2 tentang lalu lintas, apa yang harus dilakukan pengguna jalan.
gak usah menyalah kan sapa sapa yang salah adalah kita, coba klo pada sdar pasti asik
salah pemerintah.. titik..!!
nggusur warga miskin aja yg galak. kalo nggusur kepentingan kantong2 tebal. pikir2 terus. takut mental balik malah jd berabe.
trotoar dipake buat jualan, gak ada yg menghujat, tapi kalo bikers naek2 trotoar.. wah. rame bener pd ikut mencibir. hehehehe. mungkin kalo bikers naik2 trotoar juga bayar retribusi kayak PKL gitu… ya boleh2 aja kali yaaa.
maap..potonya gak ada….ntah kemana tuh..hehehehehe…
harus ada kesadaran pada pribadi2……
thanks mas Edy…..atas PERHATIAN mas terhadap blog sy…..sy terharu.
Semua salah, mari kita berbenah dari diri kita sendiri semoga sukses semua.
Salam sip deh artikelnya cocok dikirim ke bejabat itu…
Hancurkan saja jalanannya, biar tidak ada lagi kendaraan bermotor berseliweran..
salah siapa ya ? pasti banyak pihak yg terkait
pada dasarnya yang turun ke jalan khan belum benar2 pernah sekolah mengemudi, baik teori maupun praktek, SIM bisa jadi dlm sehari, jadi ya wajar kalau lalu lintas semrawut, di sini, bikin SIM bisa bertahun2 jadinya kalau yg bikin ndak lulus2 dr ujian teori maupun praktek, kalo ndak pernah lulus ya ndak boleh terjun ke jalan, dan semua orang yg mau bikin SIM harus sekolah dulu, ujian dulu sampai lulus, nggak peduli itu murid, menteri, kepala perusahaan dsb, ndak ada sistem beli SIM, jadi kalo ada yang lulus ujian dan dapat SIM itu rasanya seperti raja sehari di sini, selametan deh
Saya ngaku salah sobat
saya kadang ga tertib lalu lintas
salah kitanya yang nggak mau pke sepeda buat kerja atau sekolah!
wekekekekek!
ngak hanya dikotamu ed, dikotakupun makin lama smakin ruwet aja.
smakin mudahnya orang untuk kredit kendaraan bermotor mungkin juga ikut menjadi pemicu semakin membludaknya jalanan oleh banyaknya kendaraan bermotor .
kacang kadut..ruwet.mblunder jadi mulai dari kita sendiri untuk berdisiplin dan smoga dapat menjadi contoh..hehehe
betul…kita senasip tinggal di kota yang sama… dah..di jalani aja…he2. pemda nya emang ngaco…
‘Apa yang harus pertama kali dilakukan…?’ wah, jawabannya gak jelas or ribed
Itu sama kayak pertanyaan: ‘duluan mana, ayam or telor?’
di bandung juga udah kacau.. salah siapa? salah semua aja biar gampang
sejak awal pemerintah ngga ada masterplan jangka panjang tentang transportasi nasional kita. ya jadinya seperti inilah kondisinya, jalan-jalan di indonesia penuh sesak.
kesalahanya sudah sangat sistematis. tidak bisa kita menyalahkan hanya kepada satu pihak
di medan juga lalulintasnya amburadul
di negeri ini semuanya memang serba kacau
bolak-balik ganti presiden, ganti menteri, kepala daerah
hasilnya tetap sama : rakyat terus terpuruk dalam derita berkepanjangan
lalu siapa yg salah ?
salah kita semua, karena terlanjur menjadi rakyat Indonesia
he he he
salahku, sering nerobos lampu kuning kalo lagi buru2
setelah salah-salahan sekarang mending mulai mbenerin.. mulai dari diri sendiri, mulai saat ini juga dan mulai dari hal-hal kecil, ok!
kalau mencari siapa yang salah, memang banyak sekali yang memenuhi unsur untuk disalahkan…
Tapi saya paling sebel sama yang mengusung nama wakil rakyat, itu kok gajinya gede banget, dan sepertinya masih akan mengangguk setuju jika akan dinaikkan…
kalo mau bicara tentang kesalahan, yah itu bener2 kesalahan kolektif, mas !
Untungnya di Bali masih aman terkendali.
kok kambing item lagi sih om??
Semua salah kali ya…
saya rasa semuanya juga salah…kl ga mau disalahin mending dirumah aja ngenet….hehehhehehhee
mas, thanks udah ngasih tau.
http://chodirin.or.id/space/jangan-mau-ditipu-polisi/#comment-16780
aku males negur orang yg suka copy paste..
aku lihat di copysape.com banyak banget yg mengcopy paste tulisanku. aku biarin aja.
Bertanggung jawab atas diri masing-masing aja kali mas … biar selamet setidaknya
satu lagi keknya mas edy… kebijakan kredit motor
soalnya skrg aku amati kredit motor kok gampang banged yah… ringan n kesannya murah banged… sampe orang2 pada kredit ga cuma 1… tapi bisa dua ato tiga skaligus…
wah.. ada pesan sponsornyah *lospokus*
mas edy, aku fahmi salam kenal
menurut saya juga benar yang seperti anda katakan
saya beri saran seharusnya orang indonesia tidak sekedar “ngedekno gengsine tok” but the indonesion people should menyadari lingkungan disekitarnya.oke!!!!!!!!!!!!!!!……
paling gampang adalah mencari kesalahan orang lain….
secara umum nampaknya semuanya mempunyai kesalahan, tapi untuk memperbaikinya ini yang susah, seperti menarik benang kusut, hehehe….
mari berbenah biar bangsa kita mulai bisa merangkak.. yuk kita mulai dari diri sendiri… klo blogger ya… saling menjaga silaturahmi jga kan bisa ikut membantu persatuan bangsa… hue..he..wekekek
Salah yang pake jalan lah, saling ga mau ngalah
kondisi jalan raya agaknya bisa menjadi cermin budaya masyarakatnya, bung caplang. uu bagus tapi kalau budaya msyarakat yang ingin salip2an ndak berubah ya sami mawon, met menyambut bulan suci, bung, mohon maaf lahir batin. musimnya jalan raya makin padat merayap nih
saya ndak punya SIM sejak 2002, tapi selalu tertib berlalu lintas. Eh gak punya SIM tuh termasuk gak tertib ya? aduh, gimana dong? *mumet*
mencari siapa yang salah memang paling gampang,
tapi mencari solusi permasalahannya lebih sulit, apalagi siapa yang mau bertanggung jawab!
siapa yg salah ? jalan semrawut penuh kendaraan berasap ?
selama angkutan umum nya gak aman n nyaman apalagi ongkosnya tambah mahal, gak ngejar ama uang makan….hik!
ya mari sama2 tertib and sabar-2 aja naik motor kreditan…
biar yg udah kacau ngak tambah balau.
***kredit motor justru buat ngirit lho…***
2 Trackbacks/Pingbacks
[...] layak pakai di lingkungan proyek. Seharusnya helm cetok tak boleh beredar di pasaran tapi ternyata banyak pihak yang mestinya bertanggung jawab akan hal ini tetap membiarkan peredaran helm [...]
[...] layak pakai di lingkungan proyek. Seharusnya helm cetok tak boleh beredar di pasaran tapi ternyata banyak pihak yang mestinya bertanggung jawab akan hal ini tetap membiarkan peredaran helm [...]
Post a Comment