Salah Siapa?

2008 August 26
by Edy C

Kondisi lalu lintas di Indonesia—khususnya Jabodetabek—yang semakin ruwet merupakan satu dari sekian banyak gulungan benang kusut masalah yang siap menunggu pemimpin bangsa (baru?) berikutnya. Ruas jalan yang tak bertambah berbanding terbalik dengan peningkatan jumlah kendaraan yang beredar di jalan. Hasilnya densitas kendaraan di jalan melonjak tajam.

Masalah membutuhkan solusi. Siapa yang harus bertanggung jawab atas keruwetan ini? Apakah:

  • Pemerintah dan departemen-departemen terkait, yang harus memperbaiki dan menambah infrastruktur transportasi mulai dari kondisi jalan yang layak dan tak berlubang, rambu-rambu lalu lintas yang tidak malu-malu (sembunyi di balik rimbun pohon atau sengaja jebakan?) hingga penertiban bendera-bendera partai yang dipasang seadanya menggunakan bambu dan tali plastik tanpa memperhatikan bahayanya bagi pengguna jalan bila terkena tiupan angin (kurang dana kampanye? Jangan bikin partai!)
  • Kepolisian, sebagai instrumen pemerintah yang [mestinya] bertugas melindungi dan melayani masyarakat, tapi pada prakteknya masih ada polisi (polisi, bukan oknum polisi) yang bermain-main aturan lalu lintas demi tambahan uang setoran. Setoran untuk keluarga atau atasan?
  • Produsen dan distributor kendaraan bermotor, yang sering kali melupakan fungsi CSR dan hanya mengedepankan target penjualan. Padahal idealnya produsen dan penjual WAJIB meyakinkan konsumen untuk memiliki keahlian dan pengetahuan dasar aturan keselamatan dan lalu lintas sebelum konsumen berhak memiliki sebuah atau lebih kendaraan bermotor. Jangan perang diskon melulu…
  • Dewan yang terhormat, dengan gaji lebih dari 40 juta per bulan, mestinya tak usah meminta bayaran lagi untuk serius dan sadar (tak tidur saat rapat) membuat revisi UUB (Undang-undang yang basi) bidang lalu lintas demi kesejahteraan orang-orang yang [katanya] diwakili. Di mana nilai “mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan” yang dulu tercetak dalam buku-buku pelajaran sekolah sebagai butir nilai yang harus diamalkan?
  • Pengguna jalan, mulai dari pejalan kaki yang menyeberang atau memberhentikan angkutan umum di sembarang tempat, pengguna roda dua yang seenaknya melawan arus jalan, roda empat yang enggan memberi sedikit celah di sisi kiri.
  • …mungkin ada yang lain untuk jadi kambing warna hitam

Jadi salah siapa? Atau memang tak ada yang bisa disalahkan?

Bagaimana cara mengatasi masalah transportasi dan lalu lintas ini? Apa yang harus pertama kali dilakukan: revisi undang-undang, pemimpin yang lebih tegas tapi bukan rezim, pembubaran dewan, pajak kendaraan dan denda pelanggaran yang tinggi atau ada lainnya?

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

PS (pesan sponsor): bila Anda memiliki pendapat tentang hal ini, mengapa tak menuliskannya dalam blog dan mengikutsertakannya dalam lomba menulis Share The Road?

39 Responses leave one →
  1. 2008 August 26

    kalau masalah siapa yang salah, sulit rasanya kalo harus saling menyalahkan. mendingan semua pihak menyadari pentingnya kesadaran berlalu lintas. Idealis memang, tapi tidak ada salahnya kita bisa kampanyekan tentang lalu lintas. Saya pernah lihat hal menarik yang dilakukan mahasiswa2 UGM, mereka KKN-nya menggalakkan tentang kesadaran lalu lintas gitu, dan mereka rela berdiri di pinggir jalan membawa tulisan2 tentang lalu lintas, apa yang harus dilakukan pengguna jalan.

  2. 2008 August 26

    gak usah menyalah kan sapa sapa yang salah adalah kita, coba klo pada sdar pasti asik

  3. 2008 August 26
    Mbah Mari Djoss permalink

    salah pemerintah.. titik..!!
    nggusur warga miskin aja yg galak. kalo nggusur kepentingan kantong2 tebal. pikir2 terus. takut mental balik malah jd berabe.
    trotoar dipake buat jualan, gak ada yg menghujat, tapi kalo bikers naek2 trotoar.. wah. rame bener pd ikut mencibir. hehehehe. mungkin kalo bikers naik2 trotoar juga bayar retribusi kayak PKL gitu… ya boleh2 aja kali yaaa.

  4. 2008 August 26

    maap..potonya gak ada….ntah kemana tuh..hehehehehe…

  5. 2008 August 26

    harus ada kesadaran pada pribadi2……

    thanks mas Edy…..atas PERHATIAN mas terhadap blog sy…..sy terharu.

  6. 2008 August 26

    Semua salah, mari kita berbenah dari diri kita sendiri semoga sukses semua.

    Salam sip deh artikelnya cocok dikirim ke bejabat itu…

  7. 2008 August 26

    Hancurkan saja jalanannya, biar tidak ada lagi kendaraan bermotor berseliweran..

  8. 2008 August 26

    salah siapa ya ? pasti banyak pihak yg terkait
    pada dasarnya yang turun ke jalan khan belum benar2 pernah sekolah mengemudi, baik teori maupun praktek, SIM bisa jadi dlm sehari, jadi ya wajar kalau lalu lintas semrawut, di sini, bikin SIM bisa bertahun2 jadinya kalau yg bikin ndak lulus2 dr ujian teori maupun praktek, kalo ndak pernah lulus ya ndak boleh terjun ke jalan, dan semua orang yg mau bikin SIM harus sekolah dulu, ujian dulu sampai lulus, nggak peduli itu murid, menteri, kepala perusahaan dsb, ndak ada sistem beli SIM, jadi kalo ada yang lulus ujian dan dapat SIM itu rasanya seperti raja sehari di sini, selametan deh :)

  9. 2008 August 26

    Saya ngaku salah sobat
    saya kadang ga tertib lalu lintas :D

  10. 2008 August 26

    salah kitanya yang nggak mau pke sepeda buat kerja atau sekolah!
    wekekekekek!

  11. 2008 August 26

    ngak hanya dikotamu ed, dikotakupun makin lama smakin ruwet aja.
    smakin mudahnya orang untuk kredit kendaraan bermotor mungkin juga ikut menjadi pemicu semakin membludaknya jalanan oleh banyaknya kendaraan bermotor .

    kacang kadut..ruwet.mblunder jadi mulai dari kita sendiri untuk berdisiplin dan smoga dapat menjadi contoh..hehehe

  12. 2008 August 26

    betul…kita senasip tinggal di kota yang sama… dah..di jalani aja…he2. pemda nya emang ngaco…

  13. 2008 August 27

    ‘Apa yang harus pertama kali dilakukan…?’ wah, jawabannya gak jelas or ribed :(
    Itu sama kayak pertanyaan: ‘duluan mana, ayam or telor?’ :D

  14. 2008 August 27

    di bandung juga udah kacau.. salah siapa? salah semua aja biar gampang :D

  15. 2008 August 27

    sejak awal pemerintah ngga ada masterplan jangka panjang tentang transportasi nasional kita. ya jadinya seperti inilah kondisinya, jalan-jalan di indonesia penuh sesak.

  16. 2008 August 27

    kesalahanya sudah sangat sistematis. tidak bisa kita menyalahkan hanya kepada satu pihak

  17. 2008 August 27

    di medan juga lalulintasnya amburadul
    di negeri ini semuanya memang serba kacau
    bolak-balik ganti presiden, ganti menteri, kepala daerah
    hasilnya tetap sama : rakyat terus terpuruk dalam derita berkepanjangan
    lalu siapa yg salah ?
    salah kita semua, karena terlanjur menjadi rakyat Indonesia
    he he he

  18. 2008 August 27

    salahku, sering nerobos lampu kuning kalo lagi buru2 :mrgreen:

  19. 2008 August 27

    setelah salah-salahan sekarang mending mulai mbenerin.. mulai dari diri sendiri, mulai saat ini juga dan mulai dari hal-hal kecil, ok!

  20. 2008 August 27

    kalau mencari siapa yang salah, memang banyak sekali yang memenuhi unsur untuk disalahkan… :)
    Tapi saya paling sebel sama yang mengusung nama wakil rakyat, itu kok gajinya gede banget, dan sepertinya masih akan mengangguk setuju jika akan dinaikkan…

  21. 2008 August 27

    kalo mau bicara tentang kesalahan, yah itu bener2 kesalahan kolektif, mas !

  22. 2008 August 27

    Untungnya di Bali masih aman terkendali.

  23. 2008 August 27

    kok kambing item lagi sih om??

  24. 2008 August 27

    Semua salah kali ya…

  25. 2008 August 27

    saya rasa semuanya juga salah…kl ga mau disalahin mending dirumah aja ngenet….hehehhehehhee

  26. 2008 August 27

    mas, thanks udah ngasih tau.
    http://chodirin.or.id/space/jangan-mau-ditipu-polisi/#comment-16780
    aku males negur orang yg suka copy paste..
    aku lihat di copysape.com banyak banget yg mengcopy paste tulisanku. aku biarin aja.

  27. 2008 August 27

    Bertanggung jawab atas diri masing-masing aja kali mas … biar selamet setidaknya :)

  28. 2008 August 27

    satu lagi keknya mas edy… kebijakan kredit motor :lol: soalnya skrg aku amati kredit motor kok gampang banged yah… ringan n kesannya murah banged… sampe orang2 pada kredit ga cuma 1… tapi bisa dua ato tiga skaligus… :mrgreen:

  29. 2008 August 27

    wah.. ada pesan sponsornyah *lospokus*

  30. 2008 August 27

    mas edy, aku fahmi salam kenal
    menurut saya juga benar yang seperti anda katakan
    saya beri saran seharusnya orang indonesia tidak sekedar “ngedekno gengsine tok” but the indonesion people should menyadari lingkungan disekitarnya.oke!!!!!!!!!!!!!!!……

  31. 2008 August 27

    paling gampang adalah mencari kesalahan orang lain….
    secara umum nampaknya semuanya mempunyai kesalahan, tapi untuk memperbaikinya ini yang susah, seperti menarik benang kusut, hehehe….

  32. 2008 August 27

    mari berbenah biar bangsa kita mulai bisa merangkak.. yuk kita mulai dari diri sendiri… klo blogger ya… saling menjaga silaturahmi jga kan bisa ikut membantu persatuan bangsa… hue..he..wekekek

  33. 2008 August 27

    Salah yang pake jalan lah, saling ga mau ngalah :)

  34. 2008 August 28

    kondisi jalan raya agaknya bisa menjadi cermin budaya masyarakatnya, bung caplang. uu bagus tapi kalau budaya msyarakat yang ingin salip2an ndak berubah ya sami mawon, met menyambut bulan suci, bung, mohon maaf lahir batin. musimnya jalan raya makin padat merayap nih :grin:

  35. 2008 August 28

    saya ndak punya SIM sejak 2002, tapi selalu tertib berlalu lintas. Eh gak punya SIM tuh termasuk gak tertib ya? aduh, gimana dong? *mumet*

  36. 2008 August 28

    mencari siapa yang salah memang paling gampang,
    tapi mencari solusi permasalahannya lebih sulit, apalagi siapa yang mau bertanggung jawab!

  37. 2008 August 28
    teddy permalink

    siapa yg salah ? jalan semrawut penuh kendaraan berasap ?
    selama angkutan umum nya gak aman n nyaman apalagi ongkosnya tambah mahal, gak ngejar ama uang makan….hik!

    ya mari sama2 tertib and sabar-2 aja naik motor kreditan…
    biar yg udah kacau ngak tambah balau.

    ***kredit motor justru buat ngirit lho…***

Trackbacks & Pingbacks

  1. Helm Dua Kaca » caplang[dot]net
  2. Helm Dua Kaca |

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS