Solusi yang Mematikan
Kenaikan BBM tak terhindarkan, maksudnya keputusan sudah ditetapkan. Lebih baik memikirkan bagaimana mengatur keuangan supaya tak terlalu terpengaruh dengan perubahan tersebut. Yang terkait erat dengan penggunaan BBM tentu saja kendaraan bermotor yang menunjang pergerakan manusia dalam menjangkau penghidupannya.
Berikut beberapa tawaran solusi yang bila dilaksanakan bisa menghemat penggunaan BBM, tapi di sisi lain bila terjadi penyelewengan bisa semakin merusak, bahkan mematikan.
(+) Penyediaan transportasi massal yang baik. Ketersediaan transportasi massal yang dapat mengangkut banyak orang bisa jadi satu solusi mengurangi kepadatan lalu lintas dan penggunaan BBM pada kendaraan pribadi. Tarif terjangkau, rute yang melewati banyak ruas jalan, halte yang bersih juga aman, serta pelayanan yang ramah. Bisa ditambah dengan ketersediaan wi-fi sehingga membuat penumpang betah menunggu jadwal bus berikutnya.
(-) Dalam proses pengadaan angkutan umum harus melewati mekanisme yang ketat dan tanpa korupsi. Akan berbahaya bila persyaratan angkutan umum layak jalan jadi lahan bisnis. Kendaraan yang menghasilkan banyak polusi, bangku-bangku penumpang rusak, bau tak sedap, tentu tak menarik calon penumpang kecuali terpaksa banget.
(+) Menaikkan tarif denda pelanggaran lalu lintas. Harus dibarengi dengan pelaksanaan dan pengawasan aliran kas masuk yang ketat. Sehingga diharapkan para pengguna jalan menjadi tertib di jalan.
(-) Bisa jadi ajang korupsi baru dengan adanya tarif yang tinggi tanpa disertai pelaksanaan dan pengawasan. Alasan kenaikan BBM berbanding lurus dengan tarif nego saat terjadi pelanggaran. Mental ingin cepat tiba di tujuan dan memudahkan perjalanan masih jadi kelakuan favorit. Seakan dirinya harus segera tiba dan paling penting sedunia.
(+) Menggunakan roda dua sebagai pengganti roda empat. Dimulai dari pembuatan SIM C sesuai prosedur yang berlaku (tanpa calo), adaptasi berkendara, pengetahuan kondisi dan rambu rute yang dilalui dan pengetahuan singkat bila sepeda motor bermasalah. Konsumsi roda dua yang irit serta harga terjangkau jadi pertimbangan tersendiri. Berikut harga sepeda motor termurah jenis bebek dari 3 merek besar di pasaran, DP serta cicilan per bulan yang didapat dengan menelepon dealer terkait pada Senin, 26 Mei 2008:
| Merek |
Jenis | Harga | Diskon | DP* | Cicilan* |
| Honda |
Supra Fit X | 10.600.000 | - | 500.000 |
477.000 |
| Suzuki | Smash | 11.125.000 | 1.500.000 |
650.000 | 436.000 |
| Yamaha | Vega R | 11.300.000 | 1.100.000 | 400.000 |
474.000 |
* DP yang harus dibayarkan setelah dikurangi diskon
** Untuk angsuran 3 tahun
Bandingkan dengan harga sebuah Toyota Avanza tipe G keluaran terbaru yang harganya mencapai 125 juta rupiah dan harus rela menunggu hingga bulan September 2008! Jenis mobil ini digemari bukan lantaran masyarakat memiliki daya beli yang tinggi, tapi lantaran masih ada kebutuhan akan rasa nyaman dengan konsumsi BBM yang irit dibanding jenis mobil lain.
(-) Solusi irit bisa jadi mematikan. ATPM, distributor dan leasing hanya mengejar grafik tinggi. Mereka tak peduli apakah calon konsumennya sudah mampu mengendarai sepeda motor pilihannya. Saat survei dilakukan, yang dilihat hanya slip pendapatan dan pembayaran. Administrasi beres, sepeda motor langsung diantar esok harinya. Dengan pendapatan bersih 30 ribu rupiah per hari tentu tak sulit menyicil sebuah sepeda motor di atas. Keselamatan pengendara? Ah yang penting tembus target penjualan! Padahal, di Indonesia kecelakaan lalu lintas sudah jadi pembunuh nomor tiga setelah penyakit jantung dan stroke.
Gak ada nomor antrian, itu waktu bikin SIM. Makanya bisa pada seenaknya, harusnya ada nomor antrian, jadi lebih adil. First in First Out, bukan Last in First Out atau First In Last Out.
setuju banget dengan poin pertama untuk memperbaiki transportasi masal,
dan kurang setuju dengan penggantian roda empat dengan roda dua.
Karena roda dua itu sebenernya kurang civilized, roda dua bukan untuk transportasi jarak jauh, tapi untuk di kompleks atau di lingkungan kecil.
Harusnya, Bagi yang kaya silahkan beli roda empat, tapi pajaknya di naikin yang banyak,
yang kurang beruntung silahkan naik angkutan umum, tapi angkutannya diperbaiki dan dinyamankan.
tapi masih banyak masyarakat yg memilih roda dua sbg transportasi keluarganya, mas… mangkanya saya coba nekanin, saat roda dua jadi pilihan, jng lupa faktor keselamatan
ada keuntungan dan juga ada kekeurangannya ya om..
Poin 1 saya setuju
Berhayal dikit, coba y kalo setiap kota ada buswaynya..
barusan punya pengalaman dengan kereta api.
kalau mau jujur, kereta api ini bisa dibilang alat pengangkut yg paling banyak menampung penumpang dengan frekuensi keberangkatan lumyana tinggi.
berdayakan saja alat transportasi ini. lebih ‘dirumat’ gitu lho. tingkatkan kenyamanan saat menaikinya.
kalau perlu, sediakan juga shuttle dari dan ke stasiun kereta api,
semakin banyak yg memanfaatkan transportasi publik, seharusnya konsumsi bahan bakar perorangan akan jauh menurun.
bukan begitu? begitu bukan?
kereta emang bisa jadi pilihan utama kalo disertai dng feeder ato shuttle dari/ke stasiun tersebut
apalagi kereta kan biasanya ga pake macet
di jalan raya aku gak berani naik motor mas. ulah angkutan itu lho… juga aku suka melamun haha…
menerima pembuatan program antrean
tambahin agh…
(Bukan berarti harus kembali kejaman dulu)
(+) gunakan sepeda
naek sepeda mini,,,,,
ayo pergi mengaji… (kayak lagu iah,,,,,,)hehehehe….
tapi lucu cuga kalo di parkiran skul,,,isinya kuda iah….
ide baus tuh,,,,
bebas polusi,sama ningkatin populasi kuda,….
hehehehe,,,,
di kantin pastinya sedia rumput dong!
Om .. disini boleh OOT gak …. ??
*melet*
transportasi massal masih kurang efektif kalau banyakan kendaraan pribadi yang berkeliaran di jalanan. buntut-buntutnya bakal macet juga karena jalanan tak sanggup menampung kendaraan pribadi yang semakin banyak…
memperbaiki transportasi umum dan pengawasan jalannya juga dong! ah.. cape kalo naek ancot dan ngetem kelamaan, puputeran, jalan yang kayanya mempertaruhkan keselamatan… euh…
menaikkan denda di jalan? ga tau deh nanti yang akan diuntungkan siapa… *skeptis mode on*
memperbanyak roda dua? duh… bandung aja udah kaya apa ni isinya motor melulu… dan emang! kecelakaan makin banyak jadinya… ah… susah….
bikin jalur sepeda kenapa ga jadi satu pilihan ya? bukannya bikin jalur yang katanya mau buat busway apalah dan ga jadi sejak taun entah kapan sampai taun yang masih juga ntah kapan…
*huahuahuahuahuah asik asik misah misuh :p
Ternyata, setelah abang baca tabel di atas, cicilan motot di Balikpapan itu lebih mahal ya .. sudahlah uang mukanya minimal Rp.1 juta, cicilan terendahnya pun Rp.570 ribu untuk 3 tahun (diskon cicilan 3 bulan)
Di daerah itu, ternyata biaya hidup bisa lebih mahal dari di ibukota. Apalagi .. sayur mayur dan buah2an didatangkan dari pulau Jawa.
kuncinya satu, angkutan umum massal nan nyaman….
saat ini, semua orang yang gak layak untuk dapat sim c ikutan mengendarai sepeda motor….