Bertanding
May
10
Membaca tulisan Pak Sawali dan Mas Iman Brotoseno membuatku teringat masa 10 tahun yang lewat. Aku bukan dan tak berbakat menjadi tokoh utama. Hanya idealisme mahasiswa tingkat dua tiga yang kebetulan membuatku berada di tepi peristiwa. Kedua tulisan juga menyampaikan bagaimana peristiwa-peristiwa yang terjadi saat itu dan keadaannya sekarang. Dan akupun tak berbakat menjadi saksi sejarah.
Beberapa hal yang masih kuingat jelas:
- Amat menyakitkan saat apa yang dirasa menjadi kenyataan.
- Lagu Isabella milik Search menjadi lagu perjuangan kami, saat berjalan kaki hendak berangkat atau sepulang demo. Lengkap dengan tampang cemong pasta gigi yang katanya berguna mengatasi perihnya gas air mata.
- Aku selalu enggan mengenakan jaket kuning. Mungkin itu pula yang menyelamatkan nyawaku saat kebeles pipit sesaat sebelum Tragedi Semanggi terjadi. Aku harus pipis sembarangan di belakang halte Atmajaya, sementara di belakangku pasukan mulai sibuk sweeping dan membuat kekacauan.
- Percakapan dengan anggota Brimob yang bertugas membarikade jalan kami memasuki Universitas Gunadarma, Kelapa Dua, Depok. Saat berhadapan malah ada teman yang berdialog dan mengatakan bahwa para Brimob berminat untuk tanding sepakbola, mungkin suatu saat. Walaupun pertandingan itu tak pernah terjadi. Dialog singkat yang menggambarkan mereka juga manusia, yang mungkin karena paksaan atasannya terpaksa melaksanakan tugas bela negara. Bela negara gundulmu! Sepotong dialog singkat sebelum sang komandan kemudian berucap, “Atas nama Undang-undang, blablabla…” yang diikuti letusan senjata, pentungan dan lemparan gas air mata yang membuat kami kocar-kacir.
Sayangnya selalu ada orang idealis yang berteriak paling depan kemudian menjadi oportunis saat diberi jabatan. Sudah lupa bagaimana rasanya gas air mata, kawan?
Filed under: Indonesia. Tag(s):



edy keliatan tuanya nulis macam ini.
tadi itu Vertamaaaxxx….
nah ini Keduaaxxx!
*kangen maen ke blog ini*
@ina
makasih… ga ketebak karena tampang saya imut yak?
aih segan eh,..
old skul jg ternyata bro edy neh,..
Pengalaman yang menarik sekali bang…
Yup, idealis2 yang oportunis…
idealis sm opportunisnya, kyknya dulu gk ngerasain gas air mata cap.. rasanya perlu disuruh ngerasain skrg..
gemes nih liat ulah mereka.
cuman ikutan ngebantu lewat do’a…
:p
itulah sebabnya aLe msh menghindar dr ‘lingkaran setan’ itu. smp saat ini kerja di ’swasta’ masih menjadi prioritas utamaku
Mantep!
*save-as*
Tulisan ini cocok buat disimpan utk pengingat. Btw, saya malah mengatakan hal yang sama pada anak-anak di bawah generasi saya, bro. Jika suatu waktu nanti barisan angakatan yang lebih tua menjadi busuk, ‘bantai’ saja, bahkan jika itu termasuk kami sendiri.
Entah apa akan menjadi bumerang ucapan itu nanti, setidaknya kita memberi peringatan bahwa oportunisme selalu menjadi sebuah kemungkinan.
[OOT]
Lagu perjuangannya itu… *cubit-cubit tangan sendiri* … Diaaaa… Isabellaa…. Lambang cintaaahhh…
*dirajam*
[/OOT]]
10 tahun lalu saya juga masih sempat ikut demo mahasiswa di malang… benar2 kekuatan mahasiswa kala itu sangat kompak dari segenap pelosok negeri ya Ed
Karena duit dan ketenaran… Buwat apa gas air mata??
kalimat terakhirmu adalah kenyataan
beberapa dari kita beubah saat ada makanan
Bung Caplang telah menjadi saksi sejarah peristiwa reformasi yang berdarah-darah. semoga mengilhami anak-anak bangsa negeri ini agar menjadi bangsa yang lebih baik, terhormat dan bermartabat.
Ini akan menjadi cerita sejarah buat anak cucu
/* mode bijaksana */
ahhh kakanda-kakanda ituh nyebelin…
mahasiswa “IJO” ON
Jabatan dan kekayaan tentunya lebih menggiurkan daripada menjadi seorang idealis Ed..
Ato karena Jabatan yang mengubah mereka…?
@regsa
yupi..awalnya bersikap idealis, but terpengaruh dengan keadaan yang ada..jadi non idealis
gas air mata..perihhhhhhhhhhhhhhhhhhh
Apakah kau jugak lupa kawan,….
Diduniya ini tak ada nyang abadi.
Nyang abadi adalah perubahan itu sendiri….
tak ada nyang perlu kau sesali….
Kita kayanya seangkatan ya bro, kok nda pernah ketemu loe dijalan waktu itu ya
Well, kesadaran itu memang seringkali bisa punah, seiring dengan kondisi perut dan kantong yang makin membesar.
Mdh2x idealisme itu masih ada dihati loe bro, karena kesadaran itu yang akan menjaga diri kita agar tetap sebagai manusia.
kebelet ke toilet ada manfaatnya juga ternyata…
sepuluh taun lalu? uhm, saya masih esempe kali ya…
Gas airmata yang sangat menyesakkan tenggorokkan dan membuat tangis walaupun tidak lagi sedih. Ditambah dengan hujan batu, peluru karet, bahkan peluru tajam, yang bersileweran bak hujan. Ditingkahi teriakkan-teriakkan marah dan menghujat. Sayangnya itu sudah terlalu lama berlalu, sehingga membuat kawan-kawan seperjuangan sudah banyak yang lupa akan rasa dan kejadiannya. Bahkan saat mendapat amanah, mulai bertingkah seperti orang yang dulu diteriaki, bahkan mungkin lebih parah. Sungguh ironis.
Idealisme? Wah, semakin hari semakin berkurang semangat itu, Ed. Hik…Tragedi sepuluh tahun yang lalu menyisakan banyak cerita sedih.
Mari kita membangun lagi deh.
Salam idealisme.
kalo kata bung karno mah..
“lumrah, korban2 dalam suatu revolusi itu lumrah..”
tapi kalo hasilnya nihil?? itu namanya Parah!!
dan selalu muncul idealis-idealis baru yang siap menghancurkan oportunis2 itu kawan.. roda sejarah terus berputar
Ya. Selalu…
Zaman bukannya selalu merupakan pengulangan sejarah? Makin lama makin terasa ini seperti sebuah permainan belaka dengan rules yang sama dan skenario yang sama. Lagu lama dengan lirik saja yang diubah
Maka setiap dekade selalu ada yang bilang dengan yakin bahwa kemungkinan terbesar sekarang adalah memperbesar kemungkinan….

hahahahahaha…inih kaitannyah amak seorang idealis yang selalu lantang di hadapan pemerintah yaks? *sering demo?*

tapi sayang kalok udah di beri jabatan kek kebo di cocok idungnyah….
Makan itu idealisme. Kapan saya punya jabatan kalau tidak bersikap pragmatis dan realistis melihat tatanan bobrok ini? Para idealis akan tetap di jalanan. Para realis minimal duduk manis di Senayan.
makanya kita sekarang mari kita bertanding melawan kekuasaan yang pongah di MK om caplang !
chaos mana ada yang enak
Wuih.. Gas air mata? Gimana rasanya, mas? Panas ya? Kebayang deh rasa perihnya merintih…
ngga tau kenapa, mau karena semangat perubahan atau apa, saya masih saja kurang bisa terima yang namanya “keramaian” yang beginian…
Wah…. udah nggak kerasa ya, reformasi sudah 10 tahun, tapi apa saja yang sudah menjadi kemajuan dan yang masih sama saja dari 10 tahun yang lalu ya??
Orang idealis dan orang oportunis yang sudah lupa akan masa lalu ya?? Yah…. itulah manusia…… tak ada kawan yang abadi dan tak ada lawan yang abadi……
kapan lagi turun ke jalan??
CinChA IndONeSiA HryuS DeNgAn DeMo YacH PaK??
yang penting jangan ada air mata lagi
kecuali air mata bahagia
saya blum pernah dan nda mau ngerasain gas air mata aaahh..
ini tentang demo 98 itu ya?saya masih kelas 4 sd.belom ngerti tentang politik tapi sedih juga,karena kaka saya jadi korban.huh
postingan terbaruku juga terinspirasi dari mereka berdua om..
sudah lama sekali ya…….
dan lihatlah yang terjadi sekarang….
gimana rasanya gas air mata, ed?
Wah jadi saksi mata tragedi semanggi, jadi inget pas mo turunnya pak Harto, mahasiswa Unair demo di di jalan dharmawangsa, truk AD dah mo nabrak para mahasiswa, untung dah ditarik ama teman-teman, udah minggir pun masih dikejar sampe masuk gang-gang kecil masih dihajar tanpa ampun.
jadi sbetulnya u idealis yg ga oportunis
apa idealis yg memang ga dapet opportunity?
*evil*
Belum perna (dan gak pengen perna) cicip gas aer mata. Waktu kejadian itu gw masi SMU di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Cuma nonton lewat berita di tv.
saya masih smp… cuman denger dari temen - temen doank…
:nyesel masuk kuliah lama:
Waduh saya jadi pengen nulis 10 tahun reformasi nih, apalagi mengingat tanggal 12 Mei…
semoga bisa cepat jadi tulisannya…
Jaket Kuning ternyata menjadi kenangan yang terindah bagi mas edy ya…
Jaket Kuning terjadi …. correct (ternyata)
[...] Tak perduli dengan naiknya
Sungguh tragis .. saya jadi teringat dengan kata-kata .. “bahwa politik berpihak pada kepentingan” jadi semua bisa berubah-ubah sesuai kepentingan.
Yang selalu jadi korban adalah rakyat. Rakyat yang selalu digunakan sebagai ‘alat’ negosiasi.
http://erander.wordpress.com/2008/05/12/10-tahun-yang-lalu/