Bertanding

Membaca tulisan Pak Sawali dan Mas Iman Brotoseno membuatku teringat masa 10 tahun yang lewat. Aku bukan dan tak berbakat menjadi tokoh utama. Hanya idealisme mahasiswa tingkat dua tiga yang kebetulan membuatku berada di tepi peristiwa. Kedua tulisan juga menyampaikan bagaimana peristiwa-peristiwa yang terjadi saat itu dan keadaannya sekarang. Dan akupun tak berbakat menjadi saksi sejarah.

Beberapa hal yang masih kuingat jelas:

  1. Amat menyakitkan saat apa yang dirasa menjadi kenyataan.
  2. Lagu Isabella milik Search menjadi lagu perjuangan kami, saat berjalan kaki hendak berangkat atau sepulang demo. Lengkap dengan tampang cemong pasta gigi yang katanya berguna mengatasi perihnya gas air mata.
  3. Aku selalu enggan mengenakan jaket kuning. Mungkin itu pula yang menyelamatkan nyawaku saat kebeles pipit sesaat sebelum Tragedi Semanggi terjadi. Aku harus pipis sembarangan di belakang halte Atmajaya, sementara di belakangku pasukan mulai sibuk sweeping dan membuat kekacauan.
  4. Percakapan dengan anggota Brimob yang bertugas membarikade jalan kami memasuki Universitas Gunadarma, Kelapa Dua, Depok. Saat berhadapan malah ada teman yang berdialog dan mengatakan bahwa para Brimob berminat untuk tanding sepakbola, mungkin suatu saat. Walaupun pertandingan itu tak pernah terjadi. Dialog singkat yang menggambarkan mereka juga manusia, yang mungkin karena paksaan atasannya terpaksa melaksanakan tugas bela negara. Bela negara gundulmu! Sepotong dialog singkat sebelum sang komandan kemudian berucap, “Atas nama Undang-undang, blablabla…” yang diikuti letusan senjata, pentungan dan lemparan gas air mata yang membuat kami kocar-kacir.

Sayangnya selalu ada orang idealis yang berteriak paling depan kemudian menjadi oportunis saat diberi jabatan. Sudah lupa bagaimana rasanya gas air mata, kawan?

Filed under: Indonesia. Tag(s):

48 Comments

  1. ina on 10.05.2008 at 12:44 (Reply)

    edy keliatan tuanya nulis macam ini. :mrgreen:

  2. ina on 10.05.2008 at 12:45 (Reply)

    tadi itu Vertamaaaxxx….
    nah ini Keduaaxxx!

    *kangen maen ke blog ini*

  3. caplang[dot]net on 10.05.2008 at 12:45 (Reply)

    @ina
    makasih… ga ketebak karena tampang saya imut yak? :oops:

  4. bayu on 10.05.2008 at 13:30 (Reply)

    aih segan eh,..
    old skul jg ternyata bro edy neh,..

  5. azaxs on 10.05.2008 at 14:19 (Reply)

    Pengalaman yang menarik sekali bang…
    Yup, idealis2 yang oportunis…

  6. trijokobs on 10.05.2008 at 15:22 (Reply)

    idealis sm opportunisnya, kyknya dulu gk ngerasain gas air mata cap.. rasanya perlu disuruh ngerasain skrg..

    gemes nih liat ulah mereka.

  7. anton ashardi on 10.05.2008 at 15:26 (Reply)

    cuman ikutan ngebantu lewat do’a…

    :p

  8. aLe on 10.05.2008 at 15:29 (Reply)

    itulah sebabnya aLe msh menghindar dr ‘lingkaran setan’ itu. smp saat ini kerja di ’swasta’ masih menjadi prioritas utamaku

  9. alex® on 10.05.2008 at 16:10 (Reply)

    Mantep! :shock:

    *save-as*

    Tulisan ini cocok buat disimpan utk pengingat. Btw, saya malah mengatakan hal yang sama pada anak-anak di bawah generasi saya, bro. Jika suatu waktu nanti barisan angakatan yang lebih tua menjadi busuk, ‘bantai’ saja, bahkan jika itu termasuk kami sendiri.

    Entah apa akan menjadi bumerang ucapan itu nanti, setidaknya kita memberi peringatan bahwa oportunisme selalu menjadi sebuah kemungkinan.

    [OOT]
    Lagu perjuangannya itu… *cubit-cubit tangan sendiri* … Diaaaa… Isabellaa…. Lambang cintaaahhh… :lol:

    *dirajam*
    [/OOT]]

  10. Totok Sugianto on 10.05.2008 at 16:25 (Reply)

    10 tahun lalu saya juga masih sempat ikut demo mahasiswa di malang… benar2 kekuatan mahasiswa kala itu sangat kompak dari segenap pelosok negeri ya Ed :D

  11. adit-nya niez on 10.05.2008 at 17:34 (Reply)

    Karena duit dan ketenaran… Buwat apa gas air mata?? :mrgreen:

  12. achoey sang khilaf on 10.05.2008 at 17:42 (Reply)

    kalimat terakhirmu adalah kenyataan

    beberapa dari kita beubah saat ada makanan

  13. sawali tuhusetya on 10.05.2008 at 18:18 (Reply)

    Bung Caplang telah menjadi saksi sejarah peristiwa reformasi yang berdarah-darah. semoga mengilhami anak-anak bangsa negeri ini agar menjadi bangsa yang lebih baik, terhormat dan bermartabat.

  14. Mas Koko on 10.05.2008 at 18:45 (Reply)

    Ini akan menjadi cerita sejarah buat anak cucu :)
    /* mode bijaksana */

  15. sluman slumun slamet on 10.05.2008 at 18:58 (Reply)

    ahhh kakanda-kakanda ituh nyebelin…
    mahasiswa “IJO” ON

  16. regsa on 10.05.2008 at 19:18 (Reply)

    Jabatan dan kekayaan tentunya lebih menggiurkan daripada menjadi seorang idealis Ed..

    Ato karena Jabatan yang mengubah mereka…?

    :(

  17. Okta Sihotang on 10.05.2008 at 20:12 (Reply)

    @regsa
    yupi..awalnya bersikap idealis, but terpengaruh dengan keadaan yang ada..jadi non idealis ;)

  18. Iman on 10.05.2008 at 20:50 (Reply)

    gas air mata..perihhhhhhhhhhhhhhhhhhh

  19. Mbelgedez on 10.05.2008 at 21:29 (Reply)

    Apakah kau jugak lupa kawan,….

    Diduniya ini tak ada nyang abadi.
    Nyang abadi adalah perubahan itu sendiri….

    tak ada nyang perlu kau sesali….

  20. indrio on 10.05.2008 at 22:53 (Reply)

    Kita kayanya seangkatan ya bro, kok nda pernah ketemu loe dijalan waktu itu ya :-(

    Well, kesadaran itu memang seringkali bisa punah, seiring dengan kondisi perut dan kantong yang makin membesar.

    Mdh2x idealisme itu masih ada dihati loe bro, karena kesadaran itu yang akan menjaga diri kita agar tetap sebagai manusia.

  21. wennyaulia on 10.05.2008 at 23:02 (Reply)

    kebelet ke toilet ada manfaatnya juga ternyata…

    sepuluh taun lalu? uhm, saya masih esempe kali ya…

  22. Rafki RS on 10.05.2008 at 23:43 (Reply)

    Gas airmata yang sangat menyesakkan tenggorokkan dan membuat tangis walaupun tidak lagi sedih. Ditambah dengan hujan batu, peluru karet, bahkan peluru tajam, yang bersileweran bak hujan. Ditingkahi teriakkan-teriakkan marah dan menghujat. Sayangnya itu sudah terlalu lama berlalu, sehingga membuat kawan-kawan seperjuangan sudah banyak yang lupa akan rasa dan kejadiannya. Bahkan saat mendapat amanah, mulai bertingkah seperti orang yang dulu diteriaki, bahkan mungkin lebih parah. Sungguh ironis.

  23. hanna on 11.05.2008 at 00:11 (Reply)

    Idealisme? Wah, semakin hari semakin berkurang semangat itu, Ed. Hik…Tragedi sepuluh tahun yang lalu menyisakan banyak cerita sedih.
    Mari kita membangun lagi deh.

    Salam idealisme.

  24. Mr. Brain on 11.05.2008 at 02:32 (Reply)

    kalo kata bung karno mah..

    “lumrah, korban2 dalam suatu revolusi itu lumrah..”

    tapi kalo hasilnya nihil?? itu namanya Parah!!

    Sayangnya selalu ada orang idealis yang berteriak paling depan kemudian menjadi oportunis saat diberi jabatan

    dan selalu muncul idealis-idealis baru yang siap menghancurkan oportunis2 itu kawan.. roda sejarah terus berputar

  25. alex® on 11.05.2008 at 03:27 (Reply)

    dan selalu muncul idealis-idealis baru yang siap menghancurkan oportunis2 itu kawan.. roda sejarah terus berputar

    Ya. Selalu…

    Zaman bukannya selalu merupakan pengulangan sejarah? Makin lama makin terasa ini seperti sebuah permainan belaka dengan rules yang sama dan skenario yang sama. Lagu lama dengan lirik saja yang diubah :|

    Maka setiap dekade selalu ada yang bilang dengan yakin bahwa kemungkinan terbesar sekarang adalah memperbesar kemungkinan….
    :roll:

  26. abee on 11.05.2008 at 08:11 (Reply)

    hahahahahaha…inih kaitannyah amak seorang idealis yang selalu lantang di hadapan pemerintah yaks? *sering demo?* :roll:
    tapi sayang kalok udah di beri jabatan kek kebo di cocok idungnyah…. :lol:

  27. arif on 11.05.2008 at 09:18 (Reply)

    Makan itu idealisme. Kapan saya punya jabatan kalau tidak bersikap pragmatis dan realistis melihat tatanan bobrok ini? Para idealis akan tetap di jalanan. Para realis minimal duduk manis di Senayan.

  28. Anggara on 11.05.2008 at 10:00 (Reply)

    makanya kita sekarang mari kita bertanding melawan kekuasaan yang pongah di MK om caplang !

  29. Hedi on 11.05.2008 at 10:57 (Reply)

    chaos mana ada yang enak

  30. GR on 11.05.2008 at 12:10 (Reply)

    Wuih.. Gas air mata? Gimana rasanya, mas? Panas ya? Kebayang deh rasa perihnya merintih…

  31. natazya on 11.05.2008 at 12:31 (Reply)

    ngga tau kenapa, mau karena semangat perubahan atau apa, saya masih saja kurang bisa terima yang namanya “keramaian” yang beginian…

  32. Yari NK on 11.05.2008 at 15:25 (Reply)

    Wah…. udah nggak kerasa ya, reformasi sudah 10 tahun, tapi apa saja yang sudah menjadi kemajuan dan yang masih sama saja dari 10 tahun yang lalu ya??

    Orang idealis dan orang oportunis yang sudah lupa akan masa lalu ya?? Yah…. itulah manusia…… tak ada kawan yang abadi dan tak ada lawan yang abadi……

  33. kopicelup on 11.05.2008 at 15:31 (Reply)

    kapan lagi turun ke jalan??

  34. galih on 11.05.2008 at 17:03 (Reply)

    CinChA IndONeSiA HryuS DeNgAn DeMo YacH PaK??

    :(

  35. realylife on 11.05.2008 at 18:02 (Reply)

    yang penting jangan ada air mata lagi
    kecuali air mata bahagia

  36. theloebizz on 11.05.2008 at 20:02 (Reply)

    saya blum pernah dan nda mau ngerasain gas air mata aaahh.. :mrgreen:

  37. waterbomm on 11.05.2008 at 20:59 (Reply)

    ini tentang demo 98 itu ya?saya masih kelas 4 sd.belom ngerti tentang politik tapi sedih juga,karena kaka saya jadi korban.huh

  38. hanggadamai on 12.05.2008 at 00:57 (Reply)

    postingan terbaruku juga terinspirasi dari mereka berdua om..

  39. itikkecil on 12.05.2008 at 09:11 (Reply)

    sudah lama sekali ya…….
    dan lihatlah yang terjadi sekarang….

  40. cK on 12.05.2008 at 10:18 (Reply)

    gimana rasanya gas air mata, ed? :-?

  41. Avy on 12.05.2008 at 11:17 (Reply)

    Wah jadi saksi mata tragedi semanggi, jadi inget pas mo turunnya pak Harto, mahasiswa Unair demo di di jalan dharmawangsa, truk AD dah mo nabrak para mahasiswa, untung dah ditarik ama teman-teman, udah minggir pun masih dikejar sampe masuk gang-gang kecil masih dihajar tanpa ampun.

  42. Jendral Bayut on 12.05.2008 at 11:44 (Reply)

    jadi sbetulnya u idealis yg ga oportunis
    apa idealis yg memang ga dapet opportunity?
    *evil*

  43. emyou on 12.05.2008 at 12:36 (Reply)

    Belum perna (dan gak pengen perna) cicip gas aer mata. Waktu kejadian itu gw masi SMU di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Cuma nonton lewat berita di tv.

  44. suprie on 12.05.2008 at 18:36 (Reply)

    saya masih smp… cuman denger dari temen - temen doank…

    :nyesel masuk kuliah lama:

  45. Aulia on 12.05.2008 at 19:10 (Reply)

    Waduh saya jadi pengen nulis 10 tahun reformasi nih, apalagi mengingat tanggal 12 Mei…
    semoga bisa cepat jadi tulisannya…
    Jaket Kuning ternyata menjadi kenangan yang terindah bagi mas edy ya…

  46. Aulia on 12.05.2008 at 19:12 (Reply)

    Jaket Kuning terjadi …. correct (ternyata)

  47. Pulang « Brainstorm on 13.05.2008 at 02:37

    [...] Tak perduli dengan naiknya

  48. erander on 13.05.2008 at 17:55 (Reply)

    Sayangnya selalu ada orang idealis yang berteriak paling depan kemudian menjadi oportunis saat diberi jabatan.

    Sungguh tragis .. saya jadi teringat dengan kata-kata .. “bahwa politik berpihak pada kepentingan” jadi semua bisa berubah-ubah sesuai kepentingan.

    Yang selalu jadi korban adalah rakyat. Rakyat yang selalu digunakan sebagai ‘alat’ negosiasi.

    http://erander.wordpress.com/2008/05/12/10-tahun-yang-lalu/

Leave a comment